03 août 2008

Labschoolku sayang, Labschoolku malang 3

Teteh sedih ga?

Selama perjalanan ke rumah, aku bener-bener ga bisa nahan tangis

... Waktu kita udah nemuin stasiun tv metro tv. YaAllah, pas banget! Disitu digambarin salah satu gedung yang sedang terbakar oleh api yang gede banget! Serem banget. Aku ga bakal ngelupain apa yang aku lihat waktu itu. Gedung itu berada dipinggiran. Dan dalam hati aku menebak-nebak. Apakah itu kelasku? Aku takut sekali.
Aku, lady dan oliv bener-bener ga bisa ngomong-ngomong apa-apa. Kami langsung terduduk lemas di karpet depan televisi. Kaget. Takut. Ga tau harus apa lagi.
Beberapa lama kemudian, oliv dijemput.Katanya dia juga mau langsung ke sekolah.
Setelah oliv pergi, aku sama lady naik lagi ke atas. Kami solat asar. Aku berdoa lagi. Berdoa. Berdoa.Berdoa untuk kelasku.Berdoa untuk sekolahku.
Abis solat, kami berdua pergi halaman depan rumah lady yang ada ayunannya.Kami duduk berdua di ayunan. Biasanya kalo maen ayunan tuh aku seneng banget. Tapi di saat itu tersenyum saja rasanya susah banget. Aku terlalu takut untuk tersenyum. Yang ada di pikiranku hanya Labschool, rumah keduaku tersayang.
Tak lama kemudian, ayah nelpon. Katanya udah ada di depan rumah Lady.Jadi setelah mengambil barang-barangku dan berpamitan aku langsung masuk mobil dan meminta ayah untuk segera ke sekolah.
Dalam perjalanan ke sekolah, rasa takut itu belum hilang. Aku khawatir. Aku tahu pasti sekolahku paling tidak ada yang hancur. Tapi aku tidak tahu apa aku tahan untuk melihatnya.
Ayah memarkir mobilnya agak jauh dari sekolah karena yang deket-deket udah penuh semua. Saat melewati gerbang Labschool,aku melihat tidak ada yang berubah. Masih bagus. Masih berdiri dengan megah. Ada satu harapan timbul. Mungkin saja, kebakaran itu cuma isu. Tapi melihat kerumunan orang-orang, aku yakin itu kenyataan.
Saat aku melewati koridor SMA, aku melihat ke kanan kiri. Gedung ini masih bagus! Tidak mungkin ada kebakaran! Gedung yang tadi di berita pasti bukan Labschool. Tapi, tak lama rasa takut itu datang lagi dan aku langsung meluk tangan ayah.
Dan... Ya Allah! Kebakaran itu benar terjadi! Kenyataan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, puing-puing di teater besar. Kayu-kayu hitam yang hangus terbakar. Dan debu-debu yang terbakar menjadi saksi bisu kebakaran itu. Melihat teater besar yang hangus itu saja rasanya sedih banget. Bagaimana kalau nanti aku melihat kelasku yang katanya sudah rata itu?
Pegangan tanganku ke tangan tangan ayah semakin kencang. Lantai koridor yang setiap pagi aku lewati itu sekarang becek. Di sekelilingnya masih ada selang-selang pemadam kebakaran.
Setelah sampai di koridor masjid, aku makin lemes. Aku coba melihat apa ada yang berbeda dengan koridor masjid yang biasanya. Tidak ada. Tidak ada yang berubah. Semuanya sama kecuali lantai-lantainya yang becek.
Aku pun melihat ke lapangan SMP, tempat biasanya kita semua berkumpul kalau mau lari pagi hari Jumat. Aku mulai melihat ke bagian atas gedung dan.. Astaghfirullah! Aku sampai tidak mempercayai hitunganku sendiri. Cuma ada dua lantai! Dua lantai! Jadi mana lantai 3? Mana lantai 3 tempat kelasku berada?
Aku mulai mengedarkan pandanganku. Kantin masih sehat-sehat saja. Tapi tanaman-tanaman yang hijau itu kini berubah warna menjadi hitam. Bahkan ada juga yang sudah gundul. Genteng-genteng jatuh semua. Kerangkanya yang dari kayu hangus terbakar. Semuanya jatuh ke bawah.
Ingin rasanya aku naik ke lantai atas. Tapi sayang tidak boleh.Karena katanya mau dibersihkan dulu. Aku penasaran. Bagaimana lantai 3 bisa hilang?
Waktu lagi lihat-lihat lagi. Aku ketemu oliv. Dia bareng Iik, adiknya. Katanya apinya sampai ke SD. Jadi kelasnya Iik juga hilang.
Tak lama kemudian, aku juga ketemu Lindsey dan Rani. Setelah ngobrol bentar. Ayah ngajak aku pulang. Sebenernya aku belom mau pulang, tapi setelah dipikir-pikir ngapain juga aku disitu. Kelasku tidak akan balik lagi dengan adanya aku disitu.
Waktu ngelewatin teater besar,ayah sama bunda berenti dulu. Katanya mau liat-liat dulu. Abis itu kita pulang.
Selama perjalanan ke rumah, aku bener-bener ga bisa nahan tangis. Makanya aku ngeliat keluar jendela terus. Terus ade yang ada di sebelah aku nanya ”Teteh sedih ga?”. Dan kalimat terakhirku dalam perjalanan ke rumah hanya ”Apa aku masih harus jawab pertanyaan itu, de?”